ISL 2015 serta Polemik tak Kunjung Usai

0
514

Panggung sepakbola nasional kembali bergolak, penyebabnya beberapa klub yang tergabung dalam peserta Indonesia Super League (ISL) hingga hari Kamis (19/03) kemarin masih menyisakan persoalan administratif terkait verifikasi lanjutan yang diungkapkan Badan Olahraga Profesional Indonesia (BOPI).

Beberapa klub tersebut antara lain Pelita Bandung Raya, Arema, Persebaya, Persiram, Pusamania Borneo FC, dan Gresik United masih belum memenuhi setidaknya tiga aspek dokumen wajib yang dibutuhkan untuk mengikuti kompetisi ISL mendatang.

Keenam klub diatas mendapatkan predikat Kategori C dan belum menunjukkan peningkatan usaha berarti untuk ‘naik kasta’ ke kategori B sekaligus mendapatkan rekomendasi untuk mengikuti liga. Hingga hari Kamis lalu baru tiga klub (Sriwijaya FC, Persipura dan Persib) yang telah memenuhi kategori A-, dan tinggal melengkapi data berupa kegiatan sosialnya.

Seperti yang diketahui, syarat menjadi klub profesional sendiri meliputi bukti pelunasan gaji pemain, tim, dan staf klub, kontrak pemain, tim dan para staf serta bukti pelunasan pajak. Selain itu, semua klub wajib menyerahkan legalitas klub.

Sebelum polemik verifikasi klub ISL bergulir, BOPI telah mengajukan permintaan kepada PT Liga Indonesia untuk melengkapi persyaratan, sekaligus sebagai database.

Menurut Menteri Pemuda dan Olahraga, Imam Nahrawi dalam jumpa persnya di Gedung Kemenpora, Rabu (18/02) bahwa sejak April 2014, BOPI sudah menyurati ke induk olahraga, termasuk Liga Indonesia untuk kirim data kepada BOPI untuk data base. Baik menyangkut organisasi, manajemen, SDM, kepengurusan, dan klub profesional seperti pembinaan dan pengembangan. Namun khusus PT Liga Indonesia, surat tersebut belum pernah direspon.

“BOPI mengirim lagi 6 Januari 2015, meminta dokumen untuk kepentingan verifikasi kelayakan dan seterusnya. Kemudian surat itu dipertegas dengan harapan 19 Januari verifikasi dokumen maupun faktual,” tambahnya.

Imam Nahrawi sendiri menyatakan bahwa surat permintaan BOPI baru direspon 23 Januari. Namun, data yang dikirimkan tidak sesuai dengan yang diharapkan.

“ISL baru merepon dengan mengirim data administrasi, legal klub-klub yang sangat terbatas. Untuk verifikasi optimal, BOPI berusaha komunikasi proaktif untuk dapat data. Namun sampai 13 Februari, data baru 30 persen. Upaya BOPI untuk melengkapi dengan melakukan komunikasi intens dengan Liga Indonesia sehingga menjadi 50 persen,” terang Imam Nahrawi.

Permasalahan peserta klub ISL 2015 tak berhenti hanya sampai verifikasi BOPI semata. Beberapa klub kabar tak sedap. Semifinalis ISL musim lalu, Pelita Bandung Raya (PBR) tersangkut sebagai klub penunggak gaji ketika verifikasi awal menjelang ISL 2015.

PBR kemudian disebut sudah menunggak gaji pemain selama tiga bulan di persiapan musim baru ISL. Klub berjuluk The Boys Are Back ini juga selalu mendapatkan nilai buruk dalam hasil-hasil verifikasi Badan Olahraga Profesional Indonesia (BOPI). Mereka belum beranjak dari kategori C.

Bahkan Jumat kemarin (20/03), Marco Gracia Paulo mengundurkan diri dari jabatan direktur PT Kreasi Performa Pasundan, yang merupakan perusahaan pemillik PBR.

Salah satu pemain PBR, Boban Nikolic mengungkap masalah lain di tim yang bermarkas di Stadion Jalak Harupat Bandung tersebut. Fasilitas pemain asing sudah dicabut, bahkan kontrak apartemennya tinggal menyisakan waktu sepekan.

“Apartemen saya tinggal menyisakan satu minggu lagi, setelah itu saya tak tahu akan ke mana. Dennis Romanov dan satu pemain asing lagi sudah habis kontrak apartemennya. Fasilitas untuk pemain asing sudah ditarik. Saat ini kami cuma diberi satu mobil untuk digunakan bersama,” ungkap Boban kepada Detiksport.

Nasib PBR sendiri makin tak jelas. Berdasarkan sumber dari JPNN, klub berjuluk The Boys Are Back tersebut ‘digosipkan’ sebagai salah satu klub yang akan mundur dari kompetisi ISL musim depan.

Selain PBR, nasib tak jauh lebih baik menimpa ‘saudaranya’, yakni klub sebesar Arema bahkan tak lepas dari cobaan finansial. Hal ini diungkapkan oleh Munhar, salah satu eks pemain tim Singo Edan yang saat ini memperkuat Persebaya. Selama musim 2011-2013, Arema diketahui menunggak pembayaran gaji sebesar Rp 205juta rupiah.

Selain problematika tunggakan finansial yang sempat tercuat, tim Singo Edan juga menyisakan permasalahan aspek dokumen legal berupa akta manajemen yang disahkan oleh negara. Tanpa kelengkapan dokumen yang disyaratkan BOPI, Arema terancam tidak dapat mengikuti kompetisi ISL jika tidak mendapatkan rekomendasi dari BOPI (baca Jawa Pos – Radar Malang, 12 Februari 2015).

Polemik yang melibatkan kedua klub diatas boleh jadi akan terus bergulir. Andai ISL mendatang tak dijalankan tepat waktu dan diikuti genap 18 klub tentu akan mempengaruhi kredibilitas PT Liga Indonesia beserta PSSI dimata publik, AFC dan FIFA.

PT Liga Indonesia (PT LI) dan PSSI memiliki kepentingan besar terkait kelangsungan ISL 2015 mendatang. Selain faktor komersial, PSSI tentu menginginkan ranking dan koefisien Liga Indonesia dapat ditingkatkan setelah ‘terpuruk’ dalam beberapa tahun terakhir.

Meraih peringkat yang lebih baik memungkinkan PT Liga Indonesia mengirimkan wakilnya ke babak grup kejuaraan AFC Champions League (ACL) tanpa melewati jalur play off sekalipun. Wakil Indonesia terakhir yang mengikuti pentas  ACL adalah Arema pada tahun 2011 lalu.

Misi mulia PT LI tentu tak akan tercapai tanpa upaya dan kerja keras dari operator sepakbola terbesar negeri tersebut beserta para peserta kompetisinya. Semoga polemik ini segera terselesaikan dengan jalan terhormat, tanpa mengacuhkan kaidah hukum yang berlaku. (Oke SR)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here